Minggu, 27 November 2011

KONSEP SISTEM PERTANIAN TERPADU

KONSEP SISTEM PERTANIAN TERPADU
Tugas Ini Disusun Guna Memenuhi Komponen
Tugas Terstruktur Mata Kuliah Pertanian Terpadu .
Dosen Pengampu: Ir. Purwandaru W., M.Agr.Sc.

Disusun Oleh:
Nama : Arif Ardiawan
NIM : A1L008062
Kelas : Agroteknologi B
KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2010
KONSEP SISTEM PERTANIAN TERPADU
Komponen Sistem Pertanian Terpadu:
  1. Ternak Sapi perah
  2. Rumput Gajah
  3. Jagung
  4. Sayuran: Sawi dan Kacang Panjang
  5. Ternak Ikan Lele
  6. Instalasi Biogas
  7. Tanaman Nimba Dan Maja
  8. Kandang Pembuatan Pupuk Dan Pakan Ternak
Latar Belakang Permasalahan
Usaha meningkatkan ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup pada tanah yang subur, sudah mendekati jenuh atau leveling off. Keadaan ini menandakan produktivitas pertanian yang tidak lagi menjanjikan dan mampu memenuhi kebutuhan pakan maupun pangan. Kebutuhan pangan terus mengalami peningkatan selaras dengan bertambahnya jumlah penduduk. Tidak hanya berdasarkan kuantitas yang menjadi prioritas pilihan konsumsi masyarakat.

Dewasa ini masyarakat sudah menyadari akan pentingnya menajaga kesehatan sehingga kebutuhan akan kualitas produk pertanian yang sehat juga semakin meningkat. Sebut saja produk pertanian organik. Minimnya ketersediaan biaya produksi menyebabkan sulitnya memenuhi kriteria yang saat ini diinginkan konsumen. Di lain hal sistem pertanian yang konvensional dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia sintetik sudah sulit untuk diharapkan hasil yang maksimal.
Menjawab beberapa permasalahan diatas, perlu adanya tindakan yang mensinergikan beberapa komponen yang pada dasarnya salain memiliki keterkaitan. Senergisasi antar komponen itulah biasanya kita kenal dengan sistem pertanian terpadu.
Konsep pertanian terpadu yang dirancang yaitu dengan mensinergikan komponen-komponen yang tertera diatas. Perhatian utama terletak pada usaha ternak sapi. Dengan memanfaatkan bahan organik yang bersumber dari beternak sapi yang kontinyu menyebabkan adanya peningkatan kualitas kesuburan tanah akibat pemberian bahan organik tersebut. Sehingga tanah yang subur mampu menjadi media tumbuh yang baik dari berbagai tanaman yang nantinya dapat digunakan untuk pakan sapi. Proses yang berlangsung secara demikian yang berlanjut secara terus menerus akan menyebabkan suatu siklus yang saling menguntungkan, yang dapat dikatakan memiliki keterpaduan dari berbagai komponen sehingga dapat disebut juga pertanian terpadu.
Konsep Pelaksanaan Pertanian Terpadu.
Tanah yang akan diaplikasikan konsep ini memiliki luas 1 hektar. Dengan pembagian luasan yaitu untuk ternak sapi perah seluas 200 m2, instalasi biogas 200 m2, lahan pertanaman rumput gajah 2500 m2, lahan pertanaman jagung 3000 m2, lahan pertanaman sayur 2000 m2, kolam ikan lele 500 m2, kandang pembuatan pupuk dan pakan 200 m2. Serta sisanya untuk ditanami tanaman tahunan seperti nimba dan maja. Kesemuanya itu diterapkan secara bersamaan pada kawasan tersebut.
Pelaksanaan ternak sapi dilakukan dengan menggunakan kandang dan berisikan 10 ekor sapi perah. Pemeliharaan sapi model penggemukan dengan rata-rata pemeliharaan 12 bulan dan mulai dicoba untuk memelihara induk. Produk sampingan berupa kotoran sapi dan air kencing sapi yang selanjutnya dialirkan kedalam penampungan kotoran sapi untuk dimasukan ke digester biogas.
Lahan selanjutnya ditanami oleh tanaman rumput gajah yang difungsikan sebagai penyedia pakan sapi serta jagung yang juga sebagai penyedia pakan sapi dari batang jagung dan biji jagung yang dapat dijadikan sumber pakan manusia. Sedangkan penanaman sayur lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Aspek selanjutnya adalah kolam lele yang ditujukan untuk memperoleh pendapatan secara ekonomis dari usaha tersebut. Dan penanaman pohon tahunan seperti nimba dan maja.
Konsep Keterpaduan.
Usaha peternakan sapi lebih ditujukan pada sapi perah karena diharapkan dapat memberikan penghasilan rutin dari perahan susu. Limbah sapi kemudian dapat dimanfaatkan untuk pembutan biogas dengan menampungnya pada bak penampungan atau digester biogas. Kotoran tersebut termasuk limbah padat dan urin sapi yang selanjutnya akan mengalami fermentasi anaerob oleh mikroorganisme sehingga menghasilkan gas bio yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga sehingga dapat menghemat penggunaan kayu bakar maupun gas alam LPG.
Pada proses pembuatan biogas, terdapat limbah Lumpur yang selanjutnya dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Limbah ini akan diolah sebagai pupuk maupun pakan bagi lele di kandang pembuatan pupuk dan pakan. Pembuatan pupuk dari limbah ini juga dapat dicampurkan dengan rendemen-rendemen dari tanaman jagung, rumput gajah maupun sayuran yang tidak termanfaatkan.
Setelah dihasilkan pupuk maka digunakan untuk memupuk lahan pertanaman rumput gajah, jagung, sayuran antara lain sawi dan kacang panjang, serta tanaman nimba dan maja. Hasil lainya adalah pakan untuk lele yaitu limbah biogas dicampur dengan jagung hasil produksi jagung.
Kebun jagung, rumput gajah dan sayur setelah mendapatkan suplai pupuk dari limbah biogas, selanjutnya memiliki peran sebagai bahan pakan maupun pangan. Rumput gajah berperan untuk bahan pakan utama sapi serta batang jagung dan sisa sayuran dapat pula dijadikan bahan pakan. Hasil lainnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan.
Penanaman tanaman nimba dan maja pada tepi lahan selain ditujukan untuk tanaman pemecah angin, juga difungsikan sebagai penghasil pestisida nabati untuk memelihara tanaman-tanaman yang dibudidayakan yaitu jagung, rumput gajah dan sayuran. Sehingga pestisida yang digunakan juga merupakan pestisida organik.
Secara singkat, konsep keterpaduan dapat diuraikan bahwa sapi dapat menghasilkan kotoran dan urin yang selanjutnya diolah menjadi biogas untuk kebutuhan rumah tangga. Limbah biogas dengan pengolahan tertentu dapat dimanfaatkan untuk pupuk bagi tanaman serta untuk pakan lele. Selanjutnya lele dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomis rumah tangga maupun kebutuhan pangan. Pupuk yang dihasilkan dapat diaplikasikan pada tanaman-tanaman yang dibudidayakan. Tanaman rumput gajah seluruhnya digunakan untuk sumber pakan utama sapi. Sedangkan jagung dan sayur merupakan sumber pangan utama manusia, akan tetapi rendemennya dapat dijadikan pakan sapi maupun campuran pupuk. Pupuk dapat diaplikasikan pula untuk tanaman nimba dan maja yang pada kegiatan ini difungsikan sebagai tanaman pemecah angin, peneduh dan penghasil pestisida nabati. Pestisida nabati yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengendalikan hama dan pathogen pada tanaman jagung dan sayuran. Selanjutnya setelah dihasilkan pakan bagi sapi maka sapi akan menghasilkan susu yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia selain dapat pula menghasilkan kotoran yang akan masuk pada siklus keterpaduan diatas. Terjadinya peristiwa saling ketergantungan secara terus menerus inilah yang disebut dengan konsep sistem pertanian terpadu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar