Sabtu, 16 Oktober 2010

Identifikasi atau Determinasi Tumbuhan

II. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengklasifikasian makhluk hidup didasarkan pada banyaknya persamaan dan perbedaan, baik morfologi, fisiologi maupun anatominya. Makin banyak persamaan di antara makhluk hidup makin dekat kekerabatannya, makin sedikit persamaan makhlik hidup dikatakan makin jauh kekerabatannya.

Untuk dapat mengklasifikasikan, perlu dilakukan determinasi ataupun identifikasi, Determinasi merupakan upaya membandingkan suatu tumbuhan dengan satu tumbuhan lain yang sudah dikenal sebelumnya (dicocokkan atau dipersamakan). Karena di dunia ini tidak ada dua benda yang identik atau persis sama, maka istilah determinasi (Inggris to determine = menentukan, memastikan) dianggap lebih tepat daripada istilah identifikasi (Inggeris to identify = mempersamakan(Anonim, 2008)

Klasifikasi tumbuhan pada dasarnya merupakan pembentukan kelompok-kelompok dari seluruh tumbuhan yang ada di bumi ini hingga dapat disusun ke dalam takson-takson secara teratur mengikuti suatu hierarki. Sifat-sifat yang dijadikan dasar dalam mengadakan klasifikasi berbeda-beda tergantung orang yang mengadakan klasifikasi dan tujuan yang ingin dicapai dengan pengklasifikasian itu. Takson yang terdapat pada tingkat takson (kategori) yang lebih rendah mempunyai kesamaan sifat lebih banyak daripada takson yang terdapat pada tingkat takson (kategori) di atasnya. Perbedaan antara istilah takson dengan kategori yaitu istilah takson yang ditekankan adalah pengertian unit atau kelompok yang mana pun, sedangkan istilah kategori yang ditekankan adalah tingkat atau kedudukan golongan dalam suatu hierarki tertentu.

Untuk mendeterminasi tumbuhan pertama sekali yang perlu dilakukan adalah adalah mempelajari sifat morfologi tumbuhan tersebut. Cirri-ciri morfologis yang digunakan dalam klasifikasi ialah bagian vegetatif atau bagian yang ada kaitannya dengan reproduksi. Contoh bagian vegetatif antara lain yaitu ada tidaknya jaringan pembuluh, macam serta kedudukan daun, dn cirri-ciri organ lainnya. Pada umumnya, struktur reproduktif lebih luas penggunaannya dibandingkan dengan struktur vegetatif. Banyak studi tentang morfologi tumbuhan memperlihatkan bahwa struktur yang berhubungan dengan alat reproduktif ternyata hanya sedikit yang mengalami perubahan selama evolusi dibandingkan dengan struktutr vegetatif(Tjitrosomo, 1984). Setelah dilakukan pengamatan terhadap cirri-ciri morfologi, langkah selanjutnya adalah membandingkan atau mempersamakan ciri-ciri tumbuhan tadi dengan tumbuhan lainnya yang sudah dikenal identitasnya, dengan menggunakan salah satu cara berikut diantaranya yaitu ingatan, bantuan ahli, specimen acuan, pustaka, computer.(Anonimous, 2007):

Biasanya, proses determinasi akan lebih mudah jika menggunakan kunci determinasi. Kunci determinasi merupakan suatu alat yang diciptakan khusus untuk memperlancar pelaksanaan pendeterminasian tumbuh-tumbuhan. Kunci determinasi dibuat secara bertahap, sampai bangsa saja, suku, marga atau jenis dan seterusnya. Ciri-ciri tumbuhan disusun sedemikian rupa sehingga selangkah demi selangkah si pemakai kunci dipaksa memilih satu di antara dua atau beberapa sifat yang bertentangan,begitu seterusnya hingga akhirnya diperoleh suatu jawaban berupa identitas tumbuhan yang diinginkan(Anonimous, 2007).

A. Tujuan

1. Mengenal nama jenis tumbuhan yang tergolong tumbuhan tingkat rendah.

2. Mengenal nama jenis tumbuhan yang tergolong tumbuhan tingkat tinggi.


III. BAHAN DAN ALAT

  1. Bahan.

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah: tumbuhan hasil eksplorasi di lapangan.

  1. Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah: loup (kaca pembesar), buku kunci determinasi dan alat tulis.

IV. PROSEDUR PRAKTIKUM

Prosedur Praktikum

  1. Tumbuhan yang telah dikoleksi dibuat catatan selengkap mungkin.
  2. Tumbuhan di candra dengan baik. Lakukan dengan menggunakan kunci determinasi sampai diketahui nama familinya.
  3. Daria beberapa karakter yang diamati, maka dapat diketahui sesuai dengan pertanyaan a ataukah b. pada akhir pertanyaan didapatkan nomor baru yang menunjukan arah berikutnya, dan seterusnya. Yang akhirnya akan ditemukan sebuah nama familia.
  4. uraian atau deskripsi tentang familia dibaca dengan teliti dan bandingkan uraian tersebut dengan tanamannya, untuk meneliti apakah uraian tersbut cocok.
  5. Mulailah dengan tabel untuk menentukan nama genus, dan seterusnya sehingga ditemukan nama spesiesnya.
  6. pada akhir kegiatan, cantumkan tanah asal, tempat timbuh dan tinggi letak diatas permukaan laut serta nama daerahnya.


V. HASIL PENGAMATAN

Dari pengamatan melalui determinasai berdasarkan kunci determinasi pada buku karya Dr. C.G.G.J. van Steenis “FLORA Untuk Sekolah di Indonesia” (1981) terhadap tumbuhan hasil eksplorasi, diperoleh data sebagai berikut:

1. Caesalpinia pulcherrima diperoleh dengan menelusuri kunci determinasi sebagai berikut:

1b:Tumbuhan dengan bunga sejati, sedikitdikitnya dengan benang sari dan (atau) putik. Tumbuh-tumbuhan berbunga …………………………….2

2b:Tiada alat pembelit. Tumbuh-tumbuhan dapat juga memanjat atau membelit (dengan batang, poros daun atau tangkai daun)…..……….…3

3b:Daun tidak berbentuk jarum ataupun tidak terdapat dalam berkas tersebut diatas……………………………………...……………………4

4b:Tumbuh-tumbuhan tidak menyerupai bangsa rumput. Daun dan (atau) bunga berlainan dengan yang diterangkan diatas……,,,,,,,,,,,,……..…..6

6b:Dengan daun yang jelas……………………………………………..….7

7b:Bukan tumbuh-tumbuhan bangsa palem atau yang menyerupainya……9

9b:Tumbuh-tumbuhan tidak memanjat dan tidak membelit………………10

10b:Daun tidak tersusun sedemikian rapat menjadi rozet…………..……11

11b:Tidak semikian. Ibu tulang daun dapat dibedakan jelas dari jarring urat daun dan dari anak cabang tulang daun yang kesamping dan yang serong ke atas………………………………………………………….12

12b:Tidak semua daun duduk dalam karangan atau tidak ada daun sama sekali…………………………………………………………………..13

13b:Tumbuh-tumbuhan berbentuk lain………………………………..….14

14a:Daun tersebar, kadang-kadang sebagian berhadapan………..………15

15a:Daun tunggal, tetapi tidak berbagi menyirip rangkap sampai bercangap menyirip rangkap (golongan 8)……………………………………....109

109b:Tanaman daratan (atau tumbuh) diantara tanaan bakau…………119

119b:Tanaman lain………………………………………………………120

120b:Tanaman tanpa getah…………………………………………..….128

128b:Daun lain. Bukan rumput-rumputan yang merayap, dan mudah berakar……………………………………………………………….129

129b:Tidak ada upih daun yang jelas, paling-paling pangkal daun sedikit atau banyak mengelilingi batang………………………………….….135

135a:Daun berbentuk kupu-kupu, berlekuk dua. 59 Caesalpiniaceae.

Selanjutnya berdasarkan kunci determinasi khusus Famili Caesalpiniaceae ditelusuri sebagai berikut:

1a:Daun setidak-tidaknya sebagian menyirip rangkap……………………..2

2b:Ranting dan daun tidak berduri atau berduri temple atau hanya beberapa duri temple. Pohon atau perdu yang tegak………………………….…3

3b:Kepala putik kecil. Polongan bersayap………………………………….4

4b:Taju kelopak tidak sama, tidak berbentuk garis, tumpul atau membulat tidak berdaging. Daun mahkota lebih pendek daripada 3 cm…..1. Caesalpinia

Selanjutnya berdasarkan kunci determinasi khusus genus Caesalpinia ditelusuri sebagai berikut:

1a:Anak tangkaibunga 3,5-10 cm. benag sari dua kali lebih panjang daripada mahkota, polongan tidak berduri temple...Caesalpinia pulcherrima

2. Asplenium belangeri diperoleh dengan menelusuri kunci determinasi sebagai berikut:

1a:Tumbuh-tumbuhan tidak dengan bunga sejati, artinya tidak ada benang sari atau putik dan perhiasan bunga. Tumbuh-tumbuhan berspora…...17

17b:Tumbuh-tumbuhan darat atau rawa, berakar ditanah…………...……18

18b:Daun-daun lain macamnya ..............................………………………19

19b:Daun lebih besar dan lain bentuknya. Bagian yang fertile berbentuk bulir atau tidak. Sporangia tidak demikian letaknya…….…………....22

22b:Tumbuh-tumbuhan lain; tidak ada bagian yang fertile yang berbentuk bulir….………………………………………………………………..23

23b:Daun fertile tidak demikian………………………………………….24

24b:Daun lain………………………………………………………….….25

25b:Paku lainnya………………………………………………………….26

26b:Paku lainnya…………………………………..…….11. Polypodiaceae

Selanjutnya berdasarkan kunci determinasi khusus Famili Polypodiaceae ditelusuri sebagai berikut:

1b:Sporangia terkumpul menjadi timbunan spora (sori) yang jelas, bulat atau berbentuk garis (kadang-kadang terkumpul rapat); mempunyai atau tak mempunyai selaput penutup………………………………………..….5

5b:Sori sedikit atau banyak tertutupoleh suatu selaput penutup khusus atau oleh tepi daun yang menggulung………………………………………….10

10a:Sori terdapat agak berjarak daripada tepi daun…………………….....11

11b:Sori berbentuk garis seperti selaput penutupnya, yang terikat hanya pada satu sisi………………………………………………………………12

12b:Sori terdapat diatas tulang daun lateral yang merupakan percabangan melintang daripada ibu tulang daun….11. Asplenium

3. Arachis hypogea tidak dideterminasi berdasarkan kunci determinasi, namun dibandingkan dengan pustaka karena tanaman tersebut sudah cukup familiar.

4. Pogonatum cirrhatum tidak dideterminasi berdasarkan kunci determinasi, namun dibandingkan dengan gambar yang terdapat pada buku Taksonomi Tumbuhan karya Gembong Tjitrosoepomo (1994).

II. PEMBAHASAN

Tumbuhan tingkat rendah atau biasa dikenal dengan istilah Cryptogamae merupakan semua tumbuhan kecuali gimnofita dan tumbuhan berbunga, karena organ reproduksi tumbuhan ini tidak menonjol seperti pada kelompok tumbuhan berbunga. Sedangkan tumbuhan tingkat tinggi atau biasa dkenal dengan istilah Phanaerogamae merupakan tumbuhan yang memiliki biji dan bunga dengankata lain, organ reproduksinya tampak jelas.

Berdasarkan cara penyusunan sifat-sifat yang harus dipilih maka dikenal tiga macam kunci determinasi, yaitu kunci perbandingan, kunci analisis dan sinopsis. Kunci determinaasi yang digunakan pada praktikum ini adalah kunci analisis. Kunci analisis merupakan kunci yang paling umum digunakan dalam pustaka. Kunci ini sering juga disebut kunci dikotomi sebab terdiri atas sederetan bait atau kuplet. Setiap bait terdiri atas dua (atau adakalanya beberapa) baris yang disebut penuntun dan berisi ciri-ciri yang bertentangan satu sama lain. Untuk memudahkan pemakaian dan pengacuan, maka setiap bait diberi bernomor, sedangkan penuntunnya ditandai dengan huruf(Anonim, 2007)

Pemakai kunci analisis harus mengikuti bait-bait secara bertahap sesuai dengan yang ditentukan oleh penuntun. Dengan mempertentangkan ciri-ciri yang tercantum dalam penuntun-penuntun itu akhirnya hanya akan tinggal satu kemungkinan dan kita dituntun langsung pada nama takson yang dicari. Kunci analisis dibedakan menjadi dua macam berdasarkan cara penempatan bait-baitnya yaitu kunci bertakik (kunci indent) dan kunci parallel. Pada kunci bertakik maka penuntun-penuntun yang sebait ditakikkan pada tempat tertentu dari pinggir (menjarak pada jarak tertentu dari pinggir), tapi letaknya berjauhan. Di antara kedua penuntun itu ditempatkan bait-bait takson tumbuhan, dengan ditakikkan lebih ke tengah lagi dari pinggir yang memenuhi ciri penuntun pertama, juga dengan penuntun-penuntun yang dipisah berjauhan. Dengan demikian maka unsure-unsur takson yang mempunyai ciri yang sama jadi bersatu sehingga bisa terlihat sekaligus(Anonim, 2007)

Penuntun-penuntun kunci paralel yang sebait ditempatkan secara berurutan dan semua baitnya disusun seperti gurindam atau sajak. Pada akhir setiap penuntun diberikan nomor bait yang harus diikuti, dan demikian seterusnya sehingga akhirnya diperoleh nama takson tumbuhan yang dicari. Kunci paralel lebih menghemat tempat, terutama kalau takson tumbuhan yang dicakupnya besar sekali. Buku Flora of Java yang ditulis oleh Backer dan Backuizen van den Brink semuanya ditulis dalam bentuk kunci parallel begitu pula buku Flora Untyuk sekolah di Indonesia yang ditulis oleh C.G.G.J van Steenis juga merupakan kunci determinasi analisis dengan tipe kunci parallel.

Dari hasil eksplorasi yang selanjutnyua dilakukan determinasi, ditemukan timbuhan dari tiga divisi yang berbeda yaitu divisi Bryophyta, Magnoliophyta, dan Pteridophyta. Dari ketiga divisi tersebut, tumbuhan yang ditemukan dari hasil ekksplorasi terbagi kedalam empat famili yang berbeda yaitu Famili Polytrichaceae (untuk jenis Pogonatum cirrhatum), Famili Polypodiaceae (untuk jenis Asplenium belangeri), Famili Caesalpiniaceae(untuk jenis Caesalpinia pulcherrima) dan Famili Fabaceae (suku polong-polongan) atau disebut pada buku Flora Untuk Sekolah di Indonesia Famili dari kacang tanah (Arachis hypogea) adalah famili Papilionaceae (suku bunga kupu-kupu).

Hasil eksplorasi yang kemudian dideterminasi, diketahui bahwa Asplenium belangeri dan Pogonatum cirrhatum merupakan golongan tumbuhan tingkat rendah, karena pada kedua tumbuhan tersebut tidak ditemukan adanya biji dan organ reproduksi yang jelas. Sedangkan tumbuhan Caesalpinia pulcherrima dan Arachis hypogea digolongkan kedalam tumbuhan tingkat tinggi karena kedua tumbuhan tersebut mempunyai biji dan mempunyai organ reproduksi berupa bunga yang tampak jelas.

Deskripasi hasil detrminasi.

1. Familia Caesalpiniaceae: Pohon, perdu atau semak. Daun berseling atau tersebar, kerapkali menyirip atau menyirip rangkap, kadang-kadang tunggak. Daun penumpu ada, kerapkali cepat rontok. Bunga kerapkali berkelamin 2, dalam tanbdan, malai rata atau malai, jarang berdiri sendiri, kerapkali zygomorph. Kelopak berdaun lekat, bergigi atau bertaju 4-5. daun mahkpta lepas, kerapkali 5, kerapkali sebagian tidak ada atau rudimenter. Benag sari 1-50, lepas atau bersatu, kerapkali sebagian tidak sempurna; kepala sari beruang 2. bakal buah menumpang, beruang 1. kepala putik diujung atau dibawah tangkai putik. Polongan membuka tau tidak membuka. Biji 1 sampai banyak.

Caesalpinia pulcherrima (L.) Swartz. memiliki cirri Perdu tegak; tinggi 2-4 m. ranting kerap kali dengan beberapa duri temple, tidak berambut. Poros daun kadang-kadang sedikit berduri temple; sirip 3-9 pasang, yang tertengah yang terbesar. Anak daun persirip 4-12 pasang. Bunga berkelamin 2 atau sebagian jantan, dalam tandann yang tidak bercabang atau bercabang sedikit panjang 15-50 cm. tabunhg kelopak pendek. Daun mahkota panjang 2-3 cm,merah atau kuning, yang teratas berkuku lebih panjang. Benag sari 10, lepas, 5,5-5,7 cm; tangkai sari pipih, panjang 6-12 cm, berkatup 2. biji 1-8. tanaman hias, kadang-kadang seolah liar. Dikenal sebagian besar di Indonesia dengan nama Bunga Merak(Steenis, 1981).

2. Familia Papilionaceae: semak, perdu atau pohon, kerapkali memanjat. Daun berseling atau tersebar, tunggal atau majemuk. Daun penumpu ada.bunga berkelamin 2, dalam karangan yang berbeda-beda, kerapkali zygomorph menyolok. Mahkota hamper selalu bentuk kupu-kupu. Daun mahkota kebanyakan 5, lepas atau hamper lepas; 2 yang terbawah bersama-sama mambentuk lunas, kerapkali berlekatan satu sama lain, diapit antra 2 sayap disebelahnya; daun mahkota teratas. Benang sari kebanyakan 10, kerapkali 9 bersatu dan 1 lepas (beerbekas dua), jarang lebih dari satu lepas; ruang sari 2. bakal buah menumpang. Polongan membuka taau tidak membuka atau patah dalam ruas. Biji 1 atau banyak(Steenis, 1981).

Spesies Arachis hypogaea L. memiliki ciri Semak 1 tahun yang sudah mulai dari pangkal bercabang; tinggi 0,6-0,9 m. batang naik pelan-pelan pada pangkalnya kerapkali berakar. Daun penumpu pada pangkalnya bersatu dengan tangkai daun. Anak daun oval, memanjanmg atau bulat telur terbalik, tumpul sampia terpancung. Bunga dalam bulir yang diketiak, duduk, berbunga sedikit, masing-masing dalam daun ketiak daun pelindung yang melipat dobbel. Daun pelindung pada pangkal kelopak panjang dan sempit. Tabung kelopak berbentuk tangkai, tinggi 0,5-6 cm; tepi serupa selaput. Bendera bentuk lingkaran,kuning cerah berutrat ungu; lunas jauh lebih pendek daripada sayap, kuning pucat. Tabung benang sari tertutup. Kepala sari berseling panjang dan pendek. Dasar bunga setelah pembuahan berbentuk tangkai dan memanjang, dan mendorong bakal buah, yang dari luar tidak berobah, kedalam tanah. Polongan memanjang, tanpa sekat antara, kuning pucat gundul, tidak membuka, panjang 2-7 cm. bji 1-5, merah kuning, coklat ungu. Dari Brazilia; seringkali ditanam(Steenis, 1981).

3. Famili Polypodiaceae: Paku tanah atau epiphyt. Tidak ada batang yang sesungguhnya diatas tanah. Akar rimpang kerqapkali bersisik. Daun mempunyai hubungan beruas atau tidak dengan akar rimpang atau hubungan dengan tonjolan diatas akar rimpang (pendukung daun), tunggal atau majemuk; daun muda menggulung secara spiral. Sporangia pada sisi bawah daun (kadang-kadang pada tepi bawah daun); semua berturutan atau dalm kelompok (sori), hampir selalu bertangkai, dengan cincin vertical terdiri dari sel yang berdinding tebal, hanya terputus pada tertancapnya tangkai tesebut, jarang sekali dengan cincin yang miring tetapi sempurna, membuka, melintang, mudah rontok. Sori berbeda-beda menurut penempatan, bentuk besar, telanjang atau tertutup oleh tepi daun selaput penutup. Selaput penutupnya banyak variasinya dalam hal cara menancap, bentuk dan besarnya, tetapi tinggal atau rontok(Steenis, 1981).

Spesies Asplenium belangeri (Bory) Kze. Memiliki ciri epiphyt, 1,2 m (jarang sampai 2,5 m) tingginya. Akar rimpang tegak, pendek, bersisk. Daun tunggal, bertulang dan menyirip, tidak berruas dengan akar rimpang, rapat berjejal, setelah mongering menggantung lemah, duduk atau bertangkai sangat pendek, berbentuk lanset sampai pita, dengan pangkal menyempit, lancip atau pendek meruncing, tepi rata, seperti kulit, 2,5-25 cm, jarang lebih besar; ibu tulang daun berasal dari bawah, coklat mengkilat, tulang daun lateral banyak, sejajar. Sori banyak, berobah-robah panjangnya. Didaerah yang tidak begitu kering(Steenis, 1981).

Tanaman paku tersebut dikenal di Indonesi dengan istilah Paku Tamaga. Merupakan salah satu jenis paku yang cukup menarik dan banyak dijumpai pada daerah-daerah dataran tinggi. Di Jawa Barat mudah dijumpai di sekitar Gunung Gede, Pangrango dan Gunung Salak misalnya. Tumbuhnya bersama-sama dengan jenis paku yang lain, pada tebing-tebing atau di tepi-tepi aliran sungai dan selokan yang tempatnya agak terlindung. Tanah yang berbatu-batu atau tanah cadas yang ditutupi oleh lumut adalah tempat-tempat yang disukainya.

Orang-orang sunda menyebutnya paku tamaga atau paku beunyeur. Perawakannya kecil, rumpunnya agak banyak. Rimpangnya pendek dan tumbuhnya agak tegak. Tangkai daun bagian atas beralur. Kadang-kadangterdapat bulu. Entalnya berwarna hijau yang panjangnya antara 15-30 cm, dan lebarnya 4-8 cm. terdapat 18-20 pasang daun yang letaknya mendatar. Helaian daun yang letaknya paling bawah ukurannya lebih besar. Semakin keatas daun semakin mengecil. Ukuran yang besar mencapai 0,5-1 cm. helaian anak daun pertama bercabang dua. Daunnya agak berdaging dan warnanya agak hijau pucat. Sori terdapat dekat pangkal lekukan daun. Sori-sori itubergerombol dan warnanya cokelat terang. Paku tamaga tumbuh liar dan belum dibudidayakan. Mempunyai bentuk menarik. Selain itu, pertumbuhannya cepat and tidak memerlukan perawatan yang khusus(Sastrapradja, 1979).

4. Famili Polytrichaceae: famili ini termasuk bangsa bryales. Mempunyai gigi-gigi peristom terdiri atas sel-sel utuh, tidak bergaris-garis. Lumut yang umurnya bisa lebih dari satu tahun, daun-daun sempit, pada sisi perut tulang daun seringkali terdapat lamella yang membujur. Kapsul spora tegak atau mendatar. Peristom terdiri atas 32-64 gigi. Dari sudut letak sporogoniumnya termasuk yang bersifat akrokarp. Selain spesies Pogonatum cirrhatum, juga terdapat spesies Polytrichum commune dan Georgia pellucida(Tjitrosoepomo, 1994).


VII. KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:

5. Tumbuhan tingkat tinggi yang ditemukan diperoleh berdasarkan determinasi yang selanjutnya diperoleh takson sebagai berikut: Div. Magnoliophyta, ditemukan dua familia yaitu Familia Caesalpiniaceae yang mempunyai spesies Caesalpinia pulcherrima dan Familia Fabaceae atau Papilionaceae mempunyai spesies Arachis hypogea.

6. Tumbuhan tingkat rendah yang ditemukan diperoleh berdasarkan determinasi yang selanjutnya diperoleh takson sebagai berikut: Div. Pteridophyta, ditemukan Familia Polypodiaceae yang mempunyai spesies Asplenium belangeri dan Div. Bryophyta ditemukan Familia Polytrichaceae mempunyai spesies Pogonatum cirrhatum.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. “Keanekaragaman dan Klasifikasi Organisme”. http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.pdf. diakses tanggal 12 Juni 2009.

Anonimous. 2007. “Taksonomi Tumbuhan”. http://e-course.usu.ac.id/content/biologi/taksonomi/textbook.pdf. diakses tanggal 15 Juni 2009

Sastrapradja. 1979. Jenis Paku Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Steenis, C.G.G.J van. 1981. Flora Untuk Sekolah di Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita

Tjitrosoepomo, Gembong. 1994. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tjitrosomo, Siti Sutarmi. 1984. Botani Umum 3. Bandung: Penerbit Angkasa.

1 komentar: